Sudah tak terhitung lagi berapa banyak korban berjatuhan di sana. Legenda menyebut, itu karena ulah dendam ratu penguasa Laut Selatan. Tetapi penjelasan ilmiahnya bicara lain.Pantai Laut Selatan merupakan sebutan populer untuk kawasan sepanjang pantai Samudera Indonesia, terutama yang berbatasan dengan Pulau Jawa bagian selatan.
Kebanyakan korban adalah wisatawan domestik berusia muda, sekitar 15 – 27 tahun. Mereka berlibur ke Pantai Laut Selatan untuk menikmati keindahan panorama bentang alam pantai, sekaligus merasakan deburan ombak yang menggelegar.
Perihal musibah yang terjadi di sana, penduduk setempat mempunyai jawaban sederhana, yakni para korban dipilih oleh Nyi Loro Kidul sebagai tumbal Laut Selatan. Menurut kepercayaan mereka, para korban mungkin keturunan selir Prabu Siliwangi yang akan dijadikan budak atau bala tentara Ratu laut Selatan. Itu sebabnya korban biasanya masih muda belia.
Sudut pandang ilmiahnya tentu saja tidak seperti cerita di atas. Dengan analisis melalui pendekatan ilmu kebumian (geologi) dapat di tafsirkan penyebab utama kecelakaan itu adalah kombinasi antara gulungan ombak dan sederet arus. Untuk itu perlu diketahui terlebih dahulu karakter ombak, konfigurasi dasar laut, dan mekanisme interaksi kedua faktor tersebut.
Karakter ombak laut (wave) di pesisir selatan Pulau Jawa, mulai dari pesisir Blambangan di jawa timur hingga ujung kulon di provinsi banten, umumnya berenergi tinggi dengan ombak besar. Ini karena pantai berbatasan langsung dengan laut lepas. Berdasarkan teori ada tiga faktor pemicu terjadinya ombak, yaitu arus pasang – surut (swell), angin pantai (local wind), dan pergeseran (turun – naik) massa batuan di dasar samudera. Di pantai selatan Pulau Jawa, kombinasi antara gelombang pasang surut dan angin lokal yang bertiup kencang, khususnya saat musim barat akan menimbulkan ombak besar.
Bentuk morfologi dasar laut di sejumlah lokasi Pantai Selatan juga sangat memungkinkan terjadinya hempasan gelombang dahsyat ke pantai yang sekaligus memicu terjadinya arus seretan.
Sebagai pantai yang mengalami pengangkatan (uplifted shoreline) dengan proses abrasi cukup kuat, profil pantai selatan umumnya memiliki zone pecah gelombang (breaker zone) dekat garis pantai. Akibatanya, zone paparan (surf zone) menjadi sempit. Karena daerah paparannya sempit, meski gelombang akan pecah di zone pecah gelombang, hempasan ombaknya masih dapat menyapu pantai dengan energi cukup kuat.
Secara rekonstruktif diperkirakan, peristiwa terseretnya korban yang sedang berenang, diawali dengan hempasan atau gulungan ombak yang cukup kuat sehingga arus putar (turbelance current) pecahan ombak membuat korban terpental ke dasar laut. Hantaman ombak menyebabkan kepanikan sehingga koordinasi gerakan tubuh menjadi kacau. Benturan kepala dengan benda keraspun dapat terjadi.
Akibatnya, korban tak sadarkan diri. Pada saat bersamaan arus balik langsung menyeret korban melalui jaringan parit dasar laut. Dalam waktu relatif singkat ia akan kehilangan kesadaran karena terjadi perubahan tekanan air laut secara tiba-tiba. Korban dengan cepat kehilangan panas tubuh (hipotermia), dan akhirnya tewas.
Bila di lokasi pantai landai berpasir banyak terumbu karang yang telah mati atau batuan keras menjorok ke laut seperti di karanghawu sukabumi, potensi jatuh korban jiwa akan bertambah, karena jaringan parit dasar laut dapat terbentuk di celah-celah karang. Pada beberapa kasus, korban terseret arus balik kemudian terjepit di antara celah-celah karang. Tubuh korbanpun tidak muncul kembali ke permukaan.


